BISNIS KOLANG KALING
Paper Bisnis Kehutanan Medan, Maret 2021
BISNIS KOLANG KALING
DosenPenanggungjawab :
Dr.
Agus Purwoko, S.Hut., MSi.
Disusun Oleh :
Intan Feby Grace Malau
181201193
MNH 6
DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2021
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan
Yang Maha Esa, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis
dapat menyelesaikan penulisan Paper Bisnis Kehutanan berjudul
“Bisnis Kolang-Kaling”. Paper
ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Bisnis Kehutanan,
Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara.
Dalam
penyelesaian paper
ini, penulis mendapatkan bantuan dari berbagai pihak. Oleh sebab itu, penulis
mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si. selaku dosen pengajar
mata kuliah Bisnis Kehutanan, yang telah
mengajarkan materi dengan baik.
Penulis
sadar bahwa penulisan paper
ini masih memiliki kesalahan-kesalahan,
baik itu dalam segi teknik maupun dalam bahasa. Oleh sebab itu, penulis sangat
mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca demi menyempurnakan paper ini. Akhir kata,
penulis berharap semoga bermanfaat bagi kita semua, terimakasih.
Medan, Maret
2021
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
KATA
PENGANTAR..........................................................................................
i
DAFTAR
ISI.......................................................................................................... ii
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar
Belakang............................................................................................ 1
I.2 Rumusan
Masalah....................................................................................... 2
I.3
Tujuan......................................................................................................... 2
BAB II ISI
2.1
Klasifikasi Ilmiah Dan Morfologi Buah Aren (Arenga pinnata)................ 3
2.2 Kolang Kaling............................................................................................. 4
2.3 Kandungan Yang Terdapat Pada Kolang Kaling....................................... 4
2.4
Bentuk Pemanfaatan Kolang Kaling.......................................................... 5
BAB
III KESIMPULAN
DAN SARAN
3.1 Kesimpulan............................................................................................... 8
3.2
Saran......................................................................................................... 8
DAFTAR
PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hutan rakyat yang dikembangkan dengan
pola agroforestri akan memberikan hasil tidak hanya kayu saja melainkan juga
buah-buahan, pangan, obat-obatan, bambu, tanaman industri dan lain sebagainya,
ini semua tergabung dalam kelompok hasil hutan bukan kayu (HHBK). HHBK adalah
semua barang/bahan yang diambil atau dipanen selain kayu dari ekosistem alam,
hutan tanaman, dan digunakan untuk keperluan rumah tangga atau dipasarkan. keberadaan HHBK ini
memberikan manfaat sosial, budaya, ekonomi, dan lingkungan untuk seluruh
lapisan masyarakat. Namun sayangnya keberadaan HHBK ini masih belum
dimanfaatkan secara maksimal, kalaupun pemanfaatan HHBK dilakukan secara
maksimal itu hanya terjadi pada jenis-jenis tertentu saja oleh karena itu HHBK
ini sifatnya masih local (Diniyati dan Achmad, 2015).
Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) atau Non Timber Forest Product (NTFP)
memiliki nilai yang sangat strategis. HHBK merupakan salah satu sumberdaya
hutan yang memiliki keunggulan komparatif dan bersinggungan langsung dengan
masyarakat di sekitar hutan. Pemungutan
hasil hutan kayu, masyarakat
hutan yang tinggal di sekitar kawasan hutan, umumnya bebas memungut dan
memanfaatkan HHBK dari dalam hutan. Masyarakat biasanya memungut dan
memanfaatkan HHBK baik di dalam hutan produksi maupun hutan lindung, kecuali di
dalam kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam. Oleh karena itu, selain
menjadi sumber devisa bagi negara, HHBK seperti rotan, daging binatang, madu,
damar, gaharu, getah, berbagai macam minyak tumbuhan, bahan obat-obatan, dan
lain sebagainya merupakan sumber penghidupan bagi jutaan masyarakat hutan (Nugroho, 2015).
Kelebihan pemanfaatan HHBK (Hasil Hutan
Bukan Kayu) dapat membantu masyarakat mendapatkan sumber mata pencaharian yang
lebih beragam tanpa merusak hutan. Dengan
menanam berbagai jenis tanaman buah-buahan dan tanaman perkebunan, petani dapat
memenuhi seluruh kebutuhan jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang.
Namun kecukupannya sangat dipengaruhi oleh luasan lahannya. Jangka waktu panen
HHBK yang lebih singkat sangat besar peranannya dalam mempertahankan eksistensi
hutan karena petani tetap mempunyai sumber pendapatan dari lahan hutan. Selain
itu, juga dapat memberikan pengetahuan kepada masyarakat lokal, bahwa
pemanfaatan hutan tidak hanya dari kayunya saja, melainkan dengan pemanfaatan
buah-buahan seperti durian, mangga, alpukat, serta hasil hutan lainnya seperti
karet, atau rotan dan lain sebagainya (Indrasari
et al., 2017).
HHBK
penghasil buah terdiri dari jenis-jenis buah untuk dimakan (contoh : durian,
manggis, lengkeng, cempedak dll) maupun untuk diolah menjadi bentuk lain
seperti minyak buah tengkawang yang berasal dari beberapa jenis
Dipterocarpaceae. Selain itu beberapa jenis tanaman dapat diolah menjadi bahan
bakar alternatif seperti aren (Arenga
pinnata) dan nyamplung (Calopyllum
inophylum). Oleh karena itu HHBK mempunyai prospek yang cukup baik untuk
dikembangkan. Pengembangan HHBK buah dapat dikelola dengan sistem agro
industri. Pengembangan dilakukan pada aspek penanaman di lapangan (hulu) maupun
di bagian pasca panen/pengolahan (hilir) sampai pemasaran (Hani, 2009).
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah
dari pembuatan makalah ini yaitu:
1.
Bagaimana klasifikasi
ilmiah dan morfologi tanaman Aren (Arenga pinnata)?
2.
Apa itu kolang kaling?
3.
Apa saja kandungan
yang terdapat pada kolang kaling?
4.
Apa saja apa saja
bentuk pemanfaatan kolang kaling?
1.3 Tujuan
Tujuan dari pembuatan
makalah ini yaitu:
1.
Untuk mengetahui klasifikasi
ilmiah dan morfologi buah Aren (Arenga pinnata).
2.
Untuk mengetahui kolang-kaling.
3.
Untuk mengetahui kandungan yang
terdapat pada kolang kaling
4.
Untuk
mengetahui bentuk pemanfaatan kolang
kaling.
BAB II
ISI
2.1 Klasifikasi
Ilmiah Dan Morfologi Tanaman Aren (Arenga
pinnata)
Aren (Arenga pinnata
Merr.) adalah salah satu species yang termasuk dalam famili Aracaceae.
Klasifikasi untuk
tumbuhan aren ini adalah sebagai berikut :
Kingdom
:
Plantae
Sub
Kingdom :
Viridiplantae
Infra
Kingdom : Streptophyta
Super
Divisi :
Embryophyta
Divisi
: Tracheophyta
Sub
Divisi : Spermatophytina
Kelas
: Magnoliopsida
Super
Ordo :
Lilianae
Ordo
: Arecales
Famili
: Arecaceae
Genus
: Arenga Labill.
Spesies
: Arenga pinnata
(Wurmb) Merr.
Gambar 1. Buah Aren
Aren
merupakan jenis tanaman tahunan, berukuran besar, berbentuk pohon soliter
tinggi hingga 12 m, diameter setinggi dada (DBH) hingga 60 cm. Pohon aren dapat tumbuh mencapai tinggi dengan diameter
batang sampai 65 cm dan tinggi 15 m bahkan mencapai 20 m dengan tajuk daun yang
menjulang di atas batang. Waktu pohon masih muda batang aren belum kelihatan karena tertutup oleh pangkal pelepah daun, ketika daun paling
bawahnya sudah gugur, batangnya mulai kelihatan. Permukaan batang ditutupi oleh
serat ijuk berwarna hitam yang berasal dari dasar tangkai daun.
Buah aren terbentuk dari penyerbukan bunga jantan pada bunga betina. Penyerbukan aren diduga tidak dilakukan oleh angin tetapi oleh serangga. Apabila proses penyerbukan berjalan baik maka akan dihasilkan buah yang lebat. Buah aren tumbuh bergelantungan pada tandan yang bercabang dengan panjang sekitar 90 cm. Untuk pohon aren yang pertumbuhannya baik, bisa terdapat 4-5 tandan buah. Buah aren termasuk buah buni, bentuknya bulat, ujung tertoreh, 4x5 cm, sesil dan terdapat 3 bractea yang tebal, secara rapat berkumpul sepanjang tangkai perbungaan, berwarna hijau, buah masak warna kuning, terdapat 3 biji keras.
2.2 Kolang Kaling
Salah
satu hasil dari aren adalah buahnya yang dapat diolah menjadi kolang kaling. Kolang
kaling (Arenga pinnata L.) adalah
produk hasil perebusan endosperm biji buah aren yang masih muda. Kolang- memiliki tekstur yang kenyal, berwarna putih serta
memiliki bentuk yang lonjong. Kolang-kaling
cukup diminati oleh masyarakat terutama pada bulan ramadhan. Namun, pemanfaatan
kolang-kaling saat ini masih sangat terbatas. Biasanya
hanya dikonsumsi sebagai manisan atau makanan penutup.
Perendaman merupakan salah satu proses yang dilakukan dalam pengolahan kolang-kaling. Para pengrajin kolang-kaling biasanya melakukan perendaman kolang-kaling selama 3 hari hingga tercium aroma khas kolang-kaling. Perendaman yang dilakukan adalah dengan menggunakan air bersih atau larutan tepung beras. Air dapat membersihkan kotoran pada bahan pangan. Tujuan dari perendaman kolang-kaling adalah agar kolang-kaling lebih bersih dan putih, serta kolang-kaling lebih mengembang.
2.3 Kandungan Yang Terdapat Pada Kolang Kaling
Kandungan serat dan mineral dalam setiap
100 gram kolang-kaling yaitu energi 27 kkal, protein 0,4 gram, lemak 0,2 gram,
karbohidrat 6 gram, serat 1,6 gram, kalsium 91 mg, fosfor 243 mg dan zat besi 0,5
mg serta kadar air mencapai 94%.
Tingginya kandungan mineral seperti kalsium, besi dan fosfor sangat berkhasiat menjaga tubuh
tetap bugar dan sehat. Selain itu, juga mengandung vitamin A, vitamin B dan
vitamin C. Sedangkan kandungan potasium,
besi, kalsium, vitamin A, vitamin B, vitamin C, dan gelatin yang dapat
dicerna oleh tubuh berfungsi untuk mensintesa kolagen. Kolang-kaling
juga mengandung albumin hingga 60% dan
kadar abu sekitar 1 g dan serat
kasar 0,95g. Kolang-kaling memiliki
kadar air sangat tinggi mencapai 93,6% disamping juga
mengandung protein 2,344%,
karbohidrat 56,571% serat
kasar
10,524% (Mahakam, 2018).
2.4 Bentuk Pemanfaatan Kolang-Kaling
Produk olahan yang berasal dari pohon aren adalah
kolang-kaling. Kolang-kaling diperoleh dari buah aren setengah matang, melalui
cara membakar atau merebus. Jika buah aren yang diolah terlalu tua maka akan
mempengaruhi mutu dari kolang-kaling yang dihasilkan. Buah aren yang terlalu
tua maka teksturnya semakin keras dan apabila terlalu muda maka teksturnya
semakin lunak sehingga akan sulit untuk diolah
lebih lanjut.
Adapun bentuk-bentuk pengolahan kolang-kaling yaitu :
a.
Sebagai pangan fungsional
Purwati dan Nugrahini (2018) menyatakan bahwa pemanfaatan
buah kolang kaling sebagai pangan
fungsional merupakan alternatif untuk memperpanjang masa simpan kolang kaling
dengan cara mengolahnya dengan berbagairagam
jenis. Hal ini juga dapat menjadi
usaha pengembangan industri rumah tangga, karena buah kolang kaling merupakan salah satu produk
yang dimanfaatkan dalam makanan dan minuman. Minat konsumen pada buah kolang
kaling, terutama sebagai bahan tambahan
pada aneka makanan dan minuman dapat menjadi peluang bisnis yang
menguntungkan, tetapi pada umumnya konsumen jarang memperhatikan kandungan gizi buah kolang kaling.
Seiring berjalannya waktu, kesadaran masyarakat akan kesehatan meningkat. Masyarakat
menjadi semakin kritis dalam memilih semua produk makanan yang akan mereka
konsumsi. Hal ini memacu para industri rumah
tangga untuk membuat produk pangan yang selain memiliki penampakan yang menarik juga memiliki
kandungan gizi yang baik. Selama ini diversifikasi buah kolang kaling hanya
dikenal sebagai kolak pisang dan kolang
kaling, dengan demikian perlu diadakanya penganekaragaman produk buah kolang kaling agar meningkatkan manfaat produksi
kolang kaling. Salah satu produk yang
bisa dibuat yaitu setup kolang
kaling, manisan kolang
kaling dan sop
buah kolang kaling. Dengan demikian dapat meningkatkan nilai ekonomis
buah kolang kaling sehingga terciptanya
penganekaragaman buah kolang kaling terutama sebagai
panganan fungsional.
b.
Sebagai
bahan campuran makanan
(Es Krim)
Kolang-kaling
merupakan makanan campuran atau bahan tambahan pada makanan dan minuman. Kolang-kaling
sebagai bahan campuran makanan atau minuman misalnya wedang, dawet, campuran es
buah, dan manisan kolang-koling. Kolang
kaling sangat jarang sekali digunakan sebagai bahan tambahan makanan yang
lainnya.
Es krim merupakan salah satu
makanan yang banyak disukai oleh masyarakat mulai dari balita, anak-anak,
dewasa hingga manula. Bahan dasar dari es krim adalah susu, maka dari itu rasa
yang dominan dari es krim adalah susu, namun pada saat ini es krim sudah banyak
mengalami perkembangan dari bahan utama dan bahan tambahan yang menjadikan
kualitas es krim menjadi lebih baik.
c.
Sebagai
manisan
Ada dua jenis manisan kolang-kaling
yaitu manisan basah dan manisan kering. Manisan kolang-kaling
cukup diminati oleh masyarakat terutama pada bulan ramadhan. Manisan ini sudah cukup umum ditemui, dan penjualan
kolang-kaling akan meningkat saat mendekati bulan ramadhan.
d.
Sebagai
pembuatan briket berbahan limbah kulit kolang-kaling
Limbah biomassa seperti kulit kolang-kaling merupakan
salah satu bahan baku pembuatan briket. Kulit kolang-kaling merupakan bagian
buah aren yang sudah dipakai lagi pada waktu pengupasan buah kolang-kaling
tersebut. Kulit ini memiliki sifat yang agak kuat dan tersusun atas lignin,
selulosa dan hemiselulosa. Briket merupakan sumber energi alternatif pengganti
minyak atau elpiji. Briket dibuat dengan melakukan pengepressan/pencetakan
dengan tekanan tinggi di bawah temperatur panas.
Adapun pengolahan limbah kulit kolang-kaling sebagai bahan briket dapat dijadikan sebagai salah satu bisnis yang baik. Selain mengurangi limbah juga akan menjaga kelestarian lingkungan. Pengelolaan limbah kulit kolang kaling ini diharapkan dapat dikembangkan lebih lagi dan menjadi sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat pengelola kolang kaling. Pengelolaan limbah ini juga akan menunjukkan tingkat kesadaran masyarajat akan pentingnya pengelolaan limbah yang baik dan benar.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1 Kesimpulan
1.
Kolang
kaling merupakan salah satu produk yang banyak dimanfaatkan dalam makanan dan
minuman.
2.
Potensi
pengembangan pengolahan kolang kaling sangat baik dilakukan terutama pada
industri rumah tangga karena minat masyarakat pada buah kolang kaling tinggi.
3.
Kolang kaling memiliki kandungan nutrisi yang
sangat baik bagi tubuh, sehingga pemanfaatannya sebagai bahan campuran makanan
dan minuman sangat baik dilakukan.
4.
Pengolahan
kolang kaling perlu dilakukan dengan lebih banyak ide, agar kolang kaling tidak
hanya laku dijual pada saat ramadhan saja.
5.
Adanya
pengelolaan limbah kolang kaling, menunjukkan bahwa setiap bagian tanaman Aren
dapat dimanfaatkan secara keseluruhan, dan merupakan peluang bisnis yang baik.
3.2 Saran
Sebaiknya dilakukan penyuluhan
kepada masyarakat mengenai manfaat kolang kaling beserta cara pengelolaannya
agar dapat memicu pertumbuhan industri rumah tangga.
Diniyati D, Achmad B. 2015. Kontribusi Pendapatan
Hasil Hutan Bukan Kayu Pada Usaha Hutan Rakyat Pola Agroforestri Di Kabupaten
Tasikmalaya. Jurnal Ilmu Kehutanan,
9(1).
Fitrilia1a T, Dwi AN, Resti S. 2019. Karakteristik
Fisikokimia Serbuk Kolang Kaling (Arenga
pinnata Merr) Berdasarkan Variasi Perendaman. Jurnal Agroindustri Halal, 5(1).
Hani A. 2009. Pengembangan
Tanaman Penghasil Hasil Hutan Bukan Kayu Melalui Perbanyakan Vegetatif. Tekno Hutan Tanaman,
(2).
Indrasari D, Christine W, Afif B. 2017. Pengembangan Potensi
Hasil Hutan Bukan Kayu Oleh Kelompok Sadar Hutan Lestari Wana Agung Di Register
22 Way Waya Kabupaten Lampung Tengah. Jurnal Sylva Lestari 5(1).
Lempang M. 2012. Pohon Aren Dan Manfaat Produksinya. Info Teknis Eboni,
9(1).
Nugroho AC, Terry MF, Reynold PK, Hengki DW. 2015. Kontribusi Hasil Hutan
Bukan Kayu Bagi Masyarakat Di Sekitar Kawasan Hutan. Cocos, 6(5).
Purwati, Nugrahini T. 2018. Pemanfaatan Buah Kolang Kaling Dari
Hasil Perkebunan Sebagai Pangan Fungsional. Jurnal Abdimas Mahakam,
2(1).
Safriani N, Melly N, Ismail S,
Wenny R. 2014. Pengemasan
Manisan Kolang-Kaling Basah (Arenga
pinnata L.) dengan Bahan Kemas Plastik dan Botol Kaca pada Penyimpanan Suhu
Ruang. Rona Teknik Pertanian,
7(1).


Sungguh pembahasan yang menarik dan berguna apa lagi di masa pandemi ini
BalasHapusSungguh informasi yang bermanfaat
BalasHapusinformasi yang sangat bagus
BalasHapusapalagi untuk pemuda masa kini
Sangat informatif sih buat ide ide baru yang bisa dikembangkan di masa pandemi ini
BalasHapusWahh ini dapat dijadikan referensi untuk memulai bisnis ditengah pandemi, makasih infonya min
BalasHapusKolang kaling makanan favorit saya... Mantapp
BalasHapus